Langsung ke konten utama

Mampukah Lamun (Seagrass) Hidup di Air Tawar?

Lamun merupakan tumbuhan berbiji tertutup (Angiosperm). Tumbuhan yang juga termasuk Anthophyta (tumbuhan berbunga) ini memiliki struktur morfologi berupa daun, batang yang terbenam (rimpang/rhizome), akar, bunga, buah dan biji.

Lamun sangat unik karena cukup toleran pada habitat dengan kadar salinitas yang relatif tinggi. Ada beberapa faktor yang menyebabkan lamun berhasil beradaptasi di lingkungan bahari, yaitu: 1) Mampu hidup di media air asin; 2) Mampu berfungsi normal dalam keadaan terbenam; 3) Mempunyai sistem perakaran yang baik, dan 4) Mampu melaksanakan daur generatif dalam keadaan terbenam (Hartog 1977 dalam Hutomo 1986).

Kemampuan toleransi lamun terhadap kadar salinitas berbeda-beda, tapi sebagian besar berkisar antara 10-40 per mil. Nilai salinitas optimum untuk spesies lamun adalah 35 per mil (Dahuri 2003 dalam Ghufran 2011).

Sejarah Istilah Lamun

Di Indonesia, seagrass kerap dikenal dengan istilah lamun. Padanan kata lamun ini pertama kali dikenalkan kepada para ilmuwan, peneliti dan akademisi di Perguruan Tinggi oleh Dr. Malikusworo Hutomo, APU dalam disertasinya yang berjudul "Telaah Ekologik Komunitas Ikan pada Padang Lamun di Teluk Banten" pada tahun 1985.

Kata rumput laut sudah digunakan secara umum dan baku bagi tumbuhan algae (seaweed), baik dalam dunia perdagangan maupun dalam penggunaan bahasa Indonesia yang baku sehari-hari (Atmadja 1999 dalam Azkab 2006). Sehingga untuk menghilangkan kerancuan dari tumbuhan seagrass dan seaweed , melalui kesepakatan yang tak tertulis khususnya untuk para ilmuwan dan akademisi, maka istilah lamun dipakai untuk tumbuhan seagrass dan rumput laut tetap untuk tumbuhan seaweed (Azkab, 2006).

Namun, pemakaian kata lamun untuk padanan kata seagrass memang sebenarnya kuranglah tepat. Hal ini karena kata seagrass jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia memiliki arti rumput laut. Padahal seagrass bukanlah rumput, bukan pula alga, melainkan tumbuhan akuatik yang berbunga (Anthophyta) yang hidup di dalam laut (Den HARTOG 1970 dalam Azkab 2006). Seagrass bukanlah grasses, karena kalau grasses maka masuk dalam Poaceae (famili rumput-rumputan).

Biar bagaimana pun, sejauh ini pemakaian padanan kata lamun untuk seagrass tetaplah yang terbaik untuk meminimalisir kerancuan yang kerap terjadi pada alga yang disebut sebagai rumput laut.

Evolusi Lamun

Mencoba mencari gambaran singkat, mengapa lamun sebagai tumbuhan Angiosperm ‘termarginalkan’. Hal ini mengingat habitat mayoritas Angiosperm di darat.

Seagrasses evolved approximately 100 million years ago from land plants that returned to the sea in a least three separate lineages or families. The evolutionary adaptations required for survival in the marine environment have led to convergence (similarity) in morphology. (Len McKenzie, 2008)


Dari keterangan Len McKenzie diatas maka dapat kita ketahui bahwa evolusi lamun terjadi sekitar 100 juta tahun yang lalu. Awal mulanya lamun merupakan tumbuhan darat yang kemudian beralih ke laut. Sebagai konsekuensi dari evolusi, maka lamun ‘dipaksa’ untuk dapat survive jika ingin tetap bertahan hidup. Sebagai bentuk tuntutan dari survival-nya inilah, maka lamun beradaptasi di habitat bersalinitas cukup tinggi.

Informasi tentang evolusi dan distribusi lamun dapat dibuktikan dengan adanya temuan fosil. Catatan fosil ekosistem lamun memang tidak banyak ditemukan, tapi temuan yang ada, cukup untuk menetapkan garis besar, apa yang mungkin terjadi pada evolusi dan distribusinya. Diketahui, pertama kali Angiosperm beralih ke laut sekitar 100 juta tahun yang lalu, pada periode Cretaceous. Fosil yang diketemukan dalam kondisi cukup baik terdiri dari dua genera, Thalassocharis dan Archaeozostera, yang berasal dari Jepang dan Eropa Barat. Sedangkan untuk temuan terbaru dari genus Posidonia diwakili oleh spesies yang kurang familiar, yaitu Posidonia cretacea. Pada akhir Eosen, sekitar 40 juta tahun yang lalu, genera lamun yang paling modern mengalami evolusi, termasuk Thalassia, Thalassodendron, Cymodocea, dan Halodule, sedangkan Enhalus dan Phyllospadix muncul baru-baru ini (Larkum dan den Hartog 1989 dalam Hogarth 2007).

Merunut pada evolusinya, Halophila, Enhalus, dan Thalassia (famili Hydrocharitaceae) berevolusi dari ‘nenek moyang’ air tawar.

Menelaah Toleransi Lamun

Merujuk pada kemampuan toleransi lamun pada kadar salinitas cukup tinggi dan sejarah evolusinya, dapat ditarik sebuah hipotesa bahwa lamun dapat hidup di air tawar. Mungkin akan ada 'pengenal' lamun yang tidak percaya bahwa lamun dapat hidup di air tawar, oleh karenanya di sini penulis ingin sedikit berbagi dan kalau memang berkenan, hipotesa ini bisa diteliti lebih jauh.

Peter Hogarth (2007) dalam bukunya yang berjudul Biology of Mangrove and Seagrass mengutip pernyataan Duarte (2001) yang menyatakan bahwa ada sedikit spesies lamun yang hidup di air tawar. Dilain kesempatan, Len McKenzie juga menyebutkan bahwa beberapa lamun dapat bertahan dalam berbagai kondisi meliputi air tawar, muara, laut, atau hypersaline.

Pernyataan ini seolah diperkuat oleh Mellors et al. (1993) dan Nateekarnchanalarp dan Sudara (1992) yang menyatakan bahwa tidak diketemukan adanya pengaruh salinitas yang berarti terhadap lamun.

Dalam buku yang berjudul Ekosistem Lamun (Seagrass), M. Ghufran (2011) mengutip perkataan Supriharyono (2007) yang menyatakan bahwa adanya limbah air tawar sering diindikasikan dengan tumbuhnya jenis-jenis lamun tertentu yang berlebih ditepian pantai. Hal ini bisa saja mengindikasikan bahwa lamun jenis tertentu yang dimaksud Supriharyono adalah jenis lamun yang ‘suka’ air tawar.

Bahkan sebuah sumber menyebutkan bahwa dari 4 famili lamun yang diketahui, 2 berada di perairan Indonesia yaitu Hydrocharitaceae dan Cymodoceae. Famili Hydrocharitaceae dominan merupakan lamun yang tumbuh di air tawar sedangkan 3 famili lain merupakan lamun yang tumbuh di laut.

Kalau dilihat dari kaca mata evolusi bahwa ‘nenek moyang’ famili Hydrocharitaceae adalah tumbuhan air tawar. Seolah makin menguatkan bahwa memang genus lamun dari famili Hydrocharitaceae yang meliputi Halophila, Enhalus, dan Thalassia mampu hidup di air tawar.

Sumber Rujukan:

Anonim. Ekologi Laut Tropis. http://docsfiles.com/pdf_ekologi_laut_tropis.html diakses tanggal 8 Januari 2013.
Azkab, Husni. 2006. Ada Apa Dengan Lamun. http://www.oseanografi.lipi.go.id diakses tanggal 14 September 2013.
Ghufran H., Kordi K. M. 2011. Ekosistem Lamun (Seagrass). PT. Rineka Cipta: Jakarta. Hogarth, Peter J. 2007. Biology of Mangroves and Seagrasses. Oxford University Press: New York.
Hutomo, Malikusworo. 1986. Ekosistem Lamun. LON LIPI: Jakarta.
Hutomo, Malikusworo. 1985. Telaah Ekologik Komunitas Ikan pada Padang Lamun di Teluk Banten. http://www.oseanografi.lipi.go.id diakses tanggal 8 Januari 2013.
Mckenzie, Len. 2008. Seagrass Educators Handbook. http://www.seagrasswatch.org diakses tanggal 07 Januari 2013.

Komentar

Postingan Populer

Rekayasa Sosial ; Apa dan Bagaimana

Bab I. Pendahuluan Rasanya beragam krisis semakin terasa mewarnai aneka sisi kehidupan, mulai dari krisis sosial, krisis budaya, krisis ekonomi, hingga krisis kepercayaan pada tataran elit politik. Oleh karena itu diperlukan sebuah langkah perubahan guna perbaikan di berbagai bidang. Perubahan itu dapat dimulai dengan melakukan perubahan social, karena hakikat perubahan social tidak terbatas pada ranah atau lingkup social saja, tapi perubahan social ialah pergeseran politik, social, ekonomi dan budaya. Jadi perubahan social melingkupi berbagai aspek kehidupan. picture from : http://kammi-unwir.blogspot.com  Bab II. Isi 1.       Apa Itu Rekayasa Sosial Secara garis besar, perubahan sosial dibagi kedalam dua kategori, yakni perubahan sosial secara terus-menerus dan berlangsung secara perlahan tanpa direncanakan ( unplanned social change ) dan perubahan sosial yang direncanakan tujuan dan strateginya ( planned social change ) yang terkadang disebut dengan istilah social

Si Tayo, Animasi Korea yang Sarat Pembelajaran

“Ayo! Hai Tayo, Hai Tyao dia bis kecil ramah. Melaju, melambat, Tayo selalu senang.(2x) Jalan menanjak, jalan berbelok. Dia selalu berani. Meskipun gelap dia tak sendiri. Dengan teman tak perlu rasa takut. Hai Tayo, Hai Tayo, dia bis kecil ramah. Melaju, melambat, Tayo selalu senang. Hai Tayo, Hai Tayo, dia bis kecil ramah. Dengan teman di sisinya semua senyum ceria. Indahnya hari ini, Mari bergembira.” Itulah lirik lagu Hai Tayo dalam animasi Tayo the Little Bus. Btw, siapa yang hafal film animasi bis kecil ini tayang di stasiun televisi apa?? Seperti halnya Baby Shark , animasi Tayo si bis kecil ini menjadi tontonan yang asik bersama keluarga. Dalam hal ini, saya pribadi suka menontonnya bersama adik bontot yang duduk dibangku kelas dua SD. Tayo the Little Bus punya 4 tokoh utama yaitu Tayo yang memiliki warna biru, Rogi dengan warna hijaunya, Lani warna kuning dan Gani berwarna merah. Setiap tokoh memiliki karakter yang berbeda dan menggemaskan. Misalnya saja Rogi y